Apa kabar haha
Sekarang udah S2.
Kaget banget nggak ada tulisan apapun di tahun 2023, padahal tahunnya cukup eventful. Rekap hidup sampai sekarang, grak.
Gue dapet kuliah di kampus keren dan keluar negri, ke Longdon hehe. Kampusnya membuat gue merasa hal-hal yang sebelumnya tidak mungkin jadi mungkin, dan kasih makan idealisme yang sebenarnya sudah aku punya sejak dulu. Tapi itu perasaanku di Autumn Term, mostly. Di Winter term, aku dihadapkan dengan kenyataan kalau ternyata idealisme ini cuma bisa ada dalam lingkaran tertentu aja yang belajar tentang ini, bukan orang biasa. Sayangnya jadi subjek yang paling tidak dipedulikan orang lain pada umumnya. Lagi berjuang bagaimana caranya supaya api ini masih bisa dijaga. Karena kalau tidak dijaga, kayaknya guenya yang runtuh bersama apinya.
Resign dari kantor - happy karena menyadari seberapa banyaknya gue disayang orang. Rasa happy-nya mirip sama pas wisuda (dapat banyak bunga dan kata-kata sayang), tapi bedanya ini ada sedihnya dan takutnya juga. Sedih karena merasa kehilangan komunitas dan support system. Takut karena ngga punya high paying and fulfilling job lagi (menurut standar aku)
Hampir jadian serius sama orang, yang ternyata malah huge HUGE red flag that I actually dodge - ini di awal tahun 2023, tapi rasanya kayak belum lama karena itu jadi pengalaman terakhir yang membekas dan actually traumatis. Quite sucks karena traumanya masih sampai sekarang. Ini cukup menyedihkan sih. Tapi rasanya there's not much I can do... entah. The worst that actually happen is how that weakens my faith in love and how it hurts my pride. Tapi gue ngerti salahnya dimana, salah dari menurunkan standard dan nggak mendengarkan guts feeling. Salah banget ya Allah. Untuk pertama kalinya hubungan romansaku diakhiri dengan disgust instead of longing. Mau move on dari anger dan disgust ini ke something new, Tuhan.
Punya mimpi dan idealisme baru. Pengen lebih banyak ngelakuin hal baik untuk banyak orang. Pengen kerja di tempat yang baik sama dunia dan punya orang-orang yang baik sama dunia juga di dalamnya. Paling nggak, yang punya intensi baik, atau ya orang-orangnya baik cukup sih. Mimpi besarnya pengen jadi petinggi di NGO, dan United Nations aka PBB Tuhan. Pengen berdampak pada dunia, pengen meninggalkan jejak baik, punya legacy, mengubah dunia jadi lebih baik, mengubah orang jadi lebih baik. Lebih punya empati dan lebih mau peduli. Jujur merasa naif banget, telat punya mimpi ini sekarang. Somehow mimpinya juga berasa childish untuk umur segini? Karena udah pushing 30, harusnya udah lebih ngerti how the world works dan nerima aja. Tapi entah kenapa malah punya dorongan kuat untuk jadi rebel dan beda sendiri. Yang tentunya bikin pusing.
Krisis. Merasa sedih, hopeless, helpless, dan frustrasi karena dunia dan orang-orang sekitar ngga punya pemahaman yang sama tentang apa yang baik dan tidak baik. Standard moralnya rasanya beda. Krisis ini secara langsung ataupun tidak langsung berpengaruh ke hubungan dengan teman (jadi susah vulnerable karena merasa beda sendiri dan tidak dimengerti) dan ke keterbukaan terhadap calon partner. Sedang dalam proses melewatinya. Selama disertasi mungkin. Tapi untuk strategis menjaga energi emosional dan resilien sama hal-hal buruk, selama masih ada goal ini, mungkin baiknya dijaga harapan yang ada sekecil apapun dengan berada di circle yang suportif dan sepaham.
Semua itu juga mendorong proses perpindahan relasi dan pertemanan. Apalagi didorong dengan pemilu yang secara langsung menunjukkan moral standing orang-orang dalam life priority-nya. Meskipun fuel-nya ignorance, still sedih. Apapun relasi yang hilang, aku cuma berharap supaya bisa tumbuh kembali dalam bentuk lain. Aku harap banget sih.
2024 sudah beres Q1, masih panjang. Banyak takut, sedih, dan cemasnya ya, kalau dipikir-pikir. Semoga aku kuat. Wish me luck universe.