Tuesday, June 7, 2016

Belajar Memperbaiki Diri

Satu post lagi di tengah UAS.

Terlepas dari segala kebaikan yang kudapat, ada beberapa hal yang membuatku sedih.

Aku kehilangan seorang teman. Menurutku kita berdua sama-sama salah. Tapi aku merasa tidak bisa memperbaiki hubungannya sendiri, dan dia juga tidak  ada intensi untuk memperbaikinya.

Hubunganku dengan dua teman baikku sejak mahasiswa baru pun jadi renggang karena pertengkaranku dengan dia. Masih baik-baik saja, tetapi jauh karena beda peminatan.

Aku masih ingin menjaga dua teman baikku ini. Berbagai evaluasi pun mereka keluarkan. Aku jadi sadar akan salah satu kelemahanku, tidak peka.

Hm. 1 PR. Harus kukerjakan.

Pencarian jati diri, abis dari sini mau jadi apa. Sudah mau lulus, belum dapat magang, dan belum punya peer group.

Temanku yang hilang itu sangatlah hebat. Saking hebatnya membuatku minder, bahkan sejak kita masih bersahabat. Ketika bersahabat pikiran-pikiran minder ini selalu ku kesampingkan. Namun ketika sekarang sudah jauh, melihat hidupnya yang dikelilingi banyak orang yang ingin ku dekati, prestasinya yang tak habis-habis, membuatku minder lagi.

Solusinya ya aku harus percaya diri, menemukan USP diri sendiri, dan kembali lagi bersyukur. Ingat hal-hal yang kutulis di post sebelumnya.

Apakah ketidakpunyaan ku atas suatu peer group sepenting itu ketika banyak orang yang sayang dan peduli denganku?

Kesuksesan diriku seharusnya tidak bergantung pada dia kan. Aku harus melakukan hal yang memang baik buatku, tidak hanya sebatas untuk memberi makan ego.

Ini dia PR yang paling sulit.

Bagaimana ya mengukur perbaikan diri yang akan ku lakukan?
Takutnya selama ini aku tenggelam dalam ilusi kalau aku berubah, tetapi kenyataannya aku masih jalan di tempat.

Belajar Bersyukur

Menulis ini di tengah-tengah UAS. Kayak bahkan lupa masih punya blog.

Banyak berubah di satu tahun. Banyak kejadian bahagia. Banyak kejadian menyedihkan.

Aku mendapatkan teman baru, sahabat baru, keluarga baru, pelajaran baru, dari tempat baru.

Aku dapat prestasi baru, aku dapat ke negara favoritku.

Tiga keinginanku semasa menjadi mahasiswa baru sudah tercapai. Keinginan untuk dipajang di stasiun, keinginan untuk masuk organisasi jurusan, dan keinginan untuk dapat medali atletik untuk nomor sendiri.

Aku sudah mulai terbiasa dengan peminatan baruku. Paling tidak sudah bisa menahan diri untuk mengeluh dan meminta bantuan ke senior.

Aku senang.