Wednesday, October 5, 2016

Sudah ambil risiko.

Sudah melakukan self-disclosure dan sudah true to myself dengan dua teman yang hubungannya renggang di post sebelumnya.

Jadi begini rasanya terbuka dan come clean, mengkonfrontasi masalah di depan mata. Manis, tapi pahitnya juga ada dan cukup banyak. Mungkin karena kebetulan mencicip pahitnya di akhir kali ya, dan rasa pahi lebih dominan daripada manis.

Aku bersyukur sudah mengambil risiko itu pada teman pertama. Dilakukan pada momen yang tepat, dan diterima dengan baik. Faktanya teman pertama ini membantuku untuk lebih kuat menghadapi risiko buruk yang didapat dari teman kedua.

Aku juga bersyukur sudah mengambil risiko itu pada teman kedua. Akan tetapi, akhir dari yang kedua ini tidak sesenang yang pertama. Kita sedang dalam suatu proyek yang harus diselesaikan dalam setahun, dan ini sudah mendekati akhir. Caraku bekerja dan cara dia berbeda, dan itu menyakiti hatinya. Tidak aku doang sih, beberapa teman lain yang sebenarnya juga menyakiti hatinya dengan cara kerjanya. Ia berkata tidak bisa berteman lagi seperti dulu selama masih bekerja bersama.

Tentunya aku sedih, malam itu aku menangis habis sambil menelepon teman pertama. Aku juga menelepon support system ku dari organisasi tempat aku bekerja dengan teman kedua. Yang membuatku sedih adalah, mengingat ini tahun terakhirku kuliah, aku takut tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki hubungan ke depannya. Takutnya berakhir seperti masa2 SMA SMP dan SD. Aku mau meninggalkan jejak, dan punya teman2 baik yang selalu bisa kuandalkan. Kerengganganku dengan teman kedua membuka mataku akan hal hal baru yang tidak masuk akal. Akan tetapi, jika dicoba dimasukkan akal, konflik yang terjadi akan semakin besar dan dia terluka. Jujur masih bingung harus apa. Semoga saya baik2 saja ya, melakukan investasi untuk hubungan2 baru secara terbuka dan mendalam yang di luar zona nyaman saya.

No comments:

Post a Comment