Friday, August 19, 2016

Sebelum badai menerjang

Berusaha yang terbaik membagi waktu untuk kesenangan diri sendiri dan orang-orang tersayang, tugas karya akhir dan organisasi untuk kuliah di masa sekarang, dan magang untuk persiapan masa depan.

SEMANGAT YA TRYSH :)

You deserve a pat in the head and an embrace, telling you that everything will be alright and you did a good job! You did well, and you will do just fine. You did it. You've passed the hardest part on your life so far, you have survived well, and will continue to do well in the future. Life will be harder, but you will be stronger and happier. You should be stronger and happier, on your own.

Reach out for helps when you need them, find someone who cares, there's a lot of them. Understand that people have their ways to express love. It might not be what you expected, but it might be better for you.

I wish I could pat you in the head and shoulder. I wish I could understand you and make you happy. I wish I could help you. I wish I could remind you not to make mistakes and procrastinate.


I need someone who tell me everything is going to be okay and help me fix my mistakes. I don't want to be alone.

Tuesday, June 7, 2016

Belajar Memperbaiki Diri

Satu post lagi di tengah UAS.

Terlepas dari segala kebaikan yang kudapat, ada beberapa hal yang membuatku sedih.

Aku kehilangan seorang teman. Menurutku kita berdua sama-sama salah. Tapi aku merasa tidak bisa memperbaiki hubungannya sendiri, dan dia juga tidak  ada intensi untuk memperbaikinya.

Hubunganku dengan dua teman baikku sejak mahasiswa baru pun jadi renggang karena pertengkaranku dengan dia. Masih baik-baik saja, tetapi jauh karena beda peminatan.

Aku masih ingin menjaga dua teman baikku ini. Berbagai evaluasi pun mereka keluarkan. Aku jadi sadar akan salah satu kelemahanku, tidak peka.

Hm. 1 PR. Harus kukerjakan.

Pencarian jati diri, abis dari sini mau jadi apa. Sudah mau lulus, belum dapat magang, dan belum punya peer group.

Temanku yang hilang itu sangatlah hebat. Saking hebatnya membuatku minder, bahkan sejak kita masih bersahabat. Ketika bersahabat pikiran-pikiran minder ini selalu ku kesampingkan. Namun ketika sekarang sudah jauh, melihat hidupnya yang dikelilingi banyak orang yang ingin ku dekati, prestasinya yang tak habis-habis, membuatku minder lagi.

Solusinya ya aku harus percaya diri, menemukan USP diri sendiri, dan kembali lagi bersyukur. Ingat hal-hal yang kutulis di post sebelumnya.

Apakah ketidakpunyaan ku atas suatu peer group sepenting itu ketika banyak orang yang sayang dan peduli denganku?

Kesuksesan diriku seharusnya tidak bergantung pada dia kan. Aku harus melakukan hal yang memang baik buatku, tidak hanya sebatas untuk memberi makan ego.

Ini dia PR yang paling sulit.

Bagaimana ya mengukur perbaikan diri yang akan ku lakukan?
Takutnya selama ini aku tenggelam dalam ilusi kalau aku berubah, tetapi kenyataannya aku masih jalan di tempat.

Belajar Bersyukur

Menulis ini di tengah-tengah UAS. Kayak bahkan lupa masih punya blog.

Banyak berubah di satu tahun. Banyak kejadian bahagia. Banyak kejadian menyedihkan.

Aku mendapatkan teman baru, sahabat baru, keluarga baru, pelajaran baru, dari tempat baru.

Aku dapat prestasi baru, aku dapat ke negara favoritku.

Tiga keinginanku semasa menjadi mahasiswa baru sudah tercapai. Keinginan untuk dipajang di stasiun, keinginan untuk masuk organisasi jurusan, dan keinginan untuk dapat medali atletik untuk nomor sendiri.

Aku sudah mulai terbiasa dengan peminatan baruku. Paling tidak sudah bisa menahan diri untuk mengeluh dan meminta bantuan ke senior.

Aku senang.

Friday, May 15, 2015

/de·wa·sa /

Mengutip kata senior yang sangat ku respek di salah satu media sosialnya:

"Akan datang usia manusia di mana sebuah perubahan watak akan sulit untuk dilakukan. Pada saat yang sama, anak mereka akan berusaha mendewasakan diri karena situasi itu."



 :)

Saturday, November 29, 2014

Kamu, yang ingin ku mengerti.

aku tidak mengerti harus kemana
aku mengerti kamu, aku mengerti mereka juga.
mereka memang jahat, tapi kamu memang kurang dewasa.
mereka seharusnya membantu kamu, tapi aku (agak) maklum kenapa mereka gak membantu kamu

tapi

aku sayang kamu. aku lebih mengerti kamu.
mereka dingin. jahat, seharusnya nggak begitu.
aku marah. aku mau kamu bahagia.

yang seharusnya membantu, siapa lagi kalau bukan mereka.
mereka yang sudah mengenalmu lebih lama dari aku (bahkan sebelum aku lahir)
mereka yang punya ikatan darah sama kamu (aku juga punya sih)
mereka yang seharusnya menjadi sandaranmu ketika kamu butuh

mereka seharusnya mengerti kamu

apa susahnya membantu sedikit saja, tidak menuruti aturan sedikit saja
apa susahnya mengerti sedikit saja, apa susahnya
demi saudara
jika masih dianggap saudara.

butakah mereka
kamu lagi butuh loh
kamu mungkin kurang dewasa
tapi sekali ini aja, tidak salah kan membantu kamu
toh dengan tidak membantu kamu tidak akan membuatmu jadi dewasa

geregetan
benci
sedih
sedih

mungkin aku bilang gini karena aku sayang kamu
mungkin tidak juga, karena logikanya memang begitu.
mungkin juga, logika yang ku anggap seharusnya begitu salah
mungkin salah, karena aku sayang kamu.

tidak usah pedulikan mereka, hidup jalan terus, aku mau kamu bahagia.


Saturday, October 25, 2014

Gelap dan Senja

a poem from one of my favorite movie

“Aku adalah kunang-kunang,
dalam gelap aku terbang,
dalam gelap aku terang.
Dan jadikanlah engkau senja,
karna gelap kau ada,
karna gelap kau indah.
Aku hanyalah kunang-kunang
dan engkau hanyalah senja.
Dalam gelap kita berbagi,

dalam gelap kita abadi.”

- Rama (Love, 2008)

(image credit: kabarindonesia.com)

Wednesday, April 9, 2014

About being sad and selfish.

I am sad because of them.
They didn't do anything though, so why did I not like them being happy?
Because I think that they were being selfish.
Because sad people (like me) sometimes think that happy people are selfish.
Because sad people are tired.
They were tired of being selfless in the past, so they wish they were selfish.

I am sad.
I am tired.
I wish I were selfish.
I want to be selfish.
Ans as I wrote this, I think I am selfish.